Your information will not be shared. Ever.

Mudah Sukses

Mudah Sukses

HTML marquee

Sabtu, 26 Januari 2013

Banjir Jakarta di akibatkan keserakahan manusia terutama para pemimpinnya

Jangan pernah salahkan alam akan terjadinya bencana banjir di jakarta, ini semua merupakan ulah manusia itu sendiri yang senantiasa dalam dirinya selalu dipenuhi dengan rasa keserakahan akan nafsu dunia yang hanya sesaat ia akan hidup. Namun kehidupan sesungguhnya yang kekal abadi adalah kelak ia nanti setelah mati untuk meninggalkan dunia ini. Penyumbang terbesar dalam akibat banjir jakarta ini adalah kebijakan dari pada para pemimpinnya mulai dari tingkat pemimpin yang menengah sampai tingkat pemimpin yang elit yang terbesar yaitu presiden itu semua bukan hanya pemimpin saat ini menjabat saja namun yang terbesar adalah pemimpin-pemimpin yang terdahulu yang mana itu semua merupakan warisan yang seolah-olah terus menerus di turunkan, yang setiap kebijakan-kebijakan yang di ambilnya itu tidak pernah memikirkan dampak jangka panjang kedepannya yang ia pikirkan hanya keuntungan sesaat dan demikepentingan segelintir orang saja. Bukankah itu merupakan cerminan dari sifat binatang yang selalu rakus dan tidak pernah berpikir panjang yaitu binatang tikus. Mengapa saya sampai berkata demikian dan saya tahu bukan saya saja yang berpikir seperti itu tapi semua orang di negeri ini. Bagaimana tidak lahan yang tadinya hijau dipenuhi dengan pohon-pohon yang enak untuk dipandang, sejuk dirasakan semua itu terus menerus semakin berkurang dan mungkinkan menghilang dari pandangan mata kita, lahan yang berawa di penuhi air dan binatang tempatnya berdiam mulai semakin menyusut, menyempit bahkan hilang tak berbekas bak hilang di telan bumi, kali-kali yang lebar dan luas semakin menyempit bahkan hilang serta dengan airnya yang jernih kini telah berubah menjadi berwarna coklat bahkan berwarna hitam dan berbau busuk yang menyebaabkan binatang untuk tidak bisa hidup lagi bahkan manusia itu sendiri akan terkena dampaknya baik secara langsung ataupun tidak langsung. Itu semua di karenakan pembangunan gedung-gedung bertingkat, itu semua demi kepentingan bersama, itu semua karena kepadatan jumlah penduduk yang semakin banyak dan tidak dapat dihindari lagi, itu semua karena intensitas hujan yang cukup besar itulah yang dijadikan alasan jika mereka ditunjuk batang hidungnya secara langsung. Ayo pemimpin yang menjabat saat ini sudah seharusnya kalian unutk berpikir ekstra keras lakukanlah suatu kebijakan-kebijakan yang dapat mengatasi dengan cepat musibah banjir ini jangan sampai terulang untuk yang kesekian kalinya yang membuat telinga ini bosan tuk mendengar, mata lelah untuk melihat dan menyaksikan, hati bosan tuk bersedih karan melihat saudara-saudara kita yang tertimpa akan bencana ini. Jangan sampai alam ini yang akan menghakimi kita semua atau yang memberikan peringatan terus menerus dimana dengan peringatan alam yang di berikan ia tidak akan pernah pandang bulu, mau simiskin ataupun sikaya, mau rakyat jelata ataupun sipejabat, mau orang tua ataupun anak-anak,mau perempuan ataupun laki, mau sisehat ataupun si sakit, mau orang beriman ataupun yang penuh dengan dosa,mau orang yang tidak berpendidikan ataupun orang yang berpendidikan sekalipun, mau gubuk yang reot ataupun rumah mewah, Semua itu akan merasakan dampaknya jikalau alam sudah tidak mau bersahabat lagi dengan penduduknya di muka bumi ini di karenakan oleh perbuatannya ulah manusianya itu sendiri. Ayo semua sadarlah untuk berintrofeksi dirinya masing-masing, terutama yang lebih utama adalah para pemimpin di negeri ini agar dalam memimpin itu menggunakan hati nurani yang terdalam sampai kelubuk hati, jangan hanya memikirkan diri pribadi keluarga atau hanya sekelempok orang saja yang kau pikirkan, begitu juga dengan para tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat untuk saling menasehati sekalipun nasehat itu pedas dan menyakitkan bagi orang yang berhak untuk menerimanya. Jangan hanya melontarkan pujian-pujian yang membuat si pendengar ternina bobokan oleh pesan-pesan yang di lontarkan. Jangan sampai hal yang serupa ini terjadi di kota-kota besar yang lainnya selain dari jakarta, cukuplah jakarta sebagai bahan pelajaran untuk kita semua terutama para pemimpin-pemimpin kita mulai darilapisan terkecil hingga pemimpin lapisan yang paling atas. Jadikanlah ini sebagai bahan perenungan kita semua terutama yang membaca dan saya sendiri si penulis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar